
Pada dasarnya pekerjaan jurnalisme adalah wawancara, baik dia seorang reporter, penyiar atau anchor, produser, bahkan sampai pemimpin redaksipun masih ada saat-saat dia harus turun langsung untuk wawancara. Wawancara jurnalisme bukan wawancara kusioner dengan jawaban "YA" dan "TIDAK".
Wawancara jurnalisme adalah sebuah dialog untuk megumpulkan dan merekonstruksi fakta dari informasi yang telah ada sebelumnya. Untuk menghasilkan wawancara yang hebat, seorang jurnalis harus memperhatikan tahap-tahap persiapan, pelaksanaan, produksi atau penulisan, sampai pada tahap evaluasi. Di tulisan ini akan disampaikan mengenai tahap persiapan dan pelaksanaan.
Pedoman Wawancara:
- Dalam dunia jurnalistik, seorang jurnalis (Reporter, penyiar, anchor, host) harus melakukan persiapan yang cukup sebelum mewawancarai seseorang.
- Dia harus paham betul masalah yang akan ditanyakan. Sehingga dia bisa pandai menjaga wawancara tetap fokus dan tidak kehilangan arah, agar keterangan atau jawaban yang disampaikan narasumber sesuai dengan kebutuhan dan keingintahuan pembaca/pemirsa/pendengar.
- Harus paham bahwa wawancara yang dilakukannya bukan untuk keperluan pribadinya, editornya, bosnya, atau medianya, tapi untuk memenuhi need and want pembaca atau audiens mereka.
- Perlu mengetahui latar belakang atau sifat orang yang akan diwawancarai agar mudah menyesuaikan diri dengannya ketika bertatap muka.
- Penting sekali bagi seorang jurnalis untuk melakukan riset kecil-kecilan mengenai topik yang akan menjadi materi wawancara dan orang yang akan menjadi narasumber.
- Wawancara atau interview adalah suatu cara mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada seorang narasumber. Pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan masalah yang akan digali dan diajukan biasanya disiapkan terlebih dahulu , namun seorang jurnalis (penyiar atau reporter) sebagai pewawancara dapat mengembangkan pertanyaan. Jika ada informasi yang menarik -dari jawaban narasumber misalnya- dan perlu diperdalam lagi, maka pewawancara dapat mengajukan pertanyaan lain di luar konsep pertanyaan yang telah disediakan.
- News peg interview (wawancara berita), yaitu wawancara yang dilakukan untuk memperoleh keterangan, konfirmasi, atau pandangan interviewee (narasumber) tentang suatu masalah atau peristiwa.
- Personal interview (wawancara personal/biografi), yaitu wawancara untuk memperoleh data tentang diri-pribadi dan pemikiran narasumber –disebut juga wawancara biografi.
- Exclusive interview (wawancara eksklusif), yaitu wawancara yang dilakukan secara khusus, tidak bersama wartawan dari media lain.
- Lucky interview /casual interview, yaitu wawancara “secara kebetulan”, tidak ada perjanjian dulu dengan narasumber, misalnya mewawacarai seorang pejabat sebelum, setelah, atau di tengah berlangsungnya sebuah acara.
- Vox Vop / On the spot interview /people in the street interview, yaitu wawancara di tempat kejadian dengan berbagai narasumber, misalnya di lokasi kebakaran.
- Writen interview (Wawancara tertulis), yaitu wawancara yang dilakukan via email atau bentuk komunikasi tertulis lainnya.
- Door step interview, yaitu wawancara dengan cara mencegat narasumber di sebuah tempat, misal tersangka korupsi yang baru keluar dari ruang interogasi KPK.
Secara umum teknik wawancara meliputi tiga tahap, yaitu:
- Persiapan
- Pelaksanaan
- Produksi/penulisan
- Evaluasi
- Tentukan topik wawancara, apakah wawancara topic atau wacana, human interest, peristiwa, biografi, dll.
- Pahami masalah yang akan diangkat dalam wawancara (kumpulkan data, literature, dll). Apabila wawancara dilakukan di studi, maka anda memiliki waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan diri. Namun untuk wawancara live by phone biasanya hitungannya hanya dalam satu jam, bahkan menit. Disini anda harus benar-benar memamfaatkan waktu untuk mempelajari topik wawancara dengan cepat.
- Tentukan narasumber yang akan diwawancarai. Penting untuk diperhatikan relevansi narasumber sesuai topik yang akan dibahas dan juga kompetensi narasumbernya. Pastikan soal nama, jabatan, institusi dari dari narasumber clear.
- Kenali karakter narasumber. Tidak semua narasumber bias bersikap ramah dan tidak semua narasumber banyak bicara. Perlu sekali karakter narasumber, terutama narasumber dalam katagori khusus dan unik, dikenali agar wawancara berjalan mengalir dan tidak kaku.
- Buatlah janji dengan narasumber. Sampaikan ke narasumber untuk datang lebih awal minimal satu jam sebelum wawancara dimulai (untuk wawancara studio). Buatlah janji dengan narasumber berapa lama lagi akan dihubungi (jam atau menit) dan tanyakan dinomor kontak yang mana narasumber bias dihubungi untuk menjaga kualitas sambungan telepon (wawancara live by phone)
- Siapkan pertanyaan atau Term Of Refrence (TOR). Jika perlu kirimkan TOR kepada narasumber agar narasumber juga paham topic yang akan dibahas dan kemana target wawancara. Sehingga narasumber mempunyai waktu untuk mempersiapkan diri (untuk wawancara yang rentang waktu pelaksanaan, penerbitan dan penayangannya memiliki durasi waktu yang cukup panjang. Sementara untuk wawancara mendesak by phone, maka narasumber dapat diberitahukan apa masalah yang akan ditanyakan dan poin-poin pertanyaannya apa saja.
- Datang tepat waktu jika ada kesepakatan dengan narasumber bertemu disatu tempat.
- Menghubunginya tepat waktu jika sudah berjanji akan menghubunginya dalam waktu berapa lama kemudian sejak petama kali anda telepon membuat janji.
- Perhatikan penampilan sopan, rapi, atau sesuaikan dengan suasana, jika anda berjanji akan menemui narasumber dilokasi tertentu. Berpemapilan yang sama jika anda mewawancarai narasumber dilayar kaca.
- Kenalkan diri dan jika perlu tunjukkan ID/Press Card jika bertemu langsung dengan narasumber. Memperkenalkan diri siapa dan apa posisi anda (penyiar, produser, atau eksekutif produser) dan dari media apa, jika anda menghubunginya lewat telepon. Perkenalkan diri terlebih dahulu akan lebih sopan, baru anda menyebut posisi dan media anda.
- Lakukannlah Ice Breaking atau mencairkan suasana. Caranya mudah mudah, bisa dilakukan dengan mengorol santai, menanyakan kabar narasumber apa kegiatannya, dll. Proses ice breaking dilakukan sebelum wawancara agar suasana dan jalannya wawancara mengalir, tidak kaku dan narasumber merasa nyaman untuk bicara atau menjelaskan.
- Gunakanlah intonasi pertanyaan yang lebih friendly, tidak ketus, tidak judes. Jangan membawa sentiment pribadi atau ketidaksukaan anda dengan narasumber, masalah yanhg diangkat atau sepak terjang narasumbernya.
- Tidak menempatkan diri lebih hebat dari narasumber atau merasa minder dengan narasumbernya. Hal ini akan mempengaruhi cara anda bertanya dan kualitas wawancara secara keseluruhan.
- Pertanyaan tidak bersifat interogatif atau terkesan memojokkan.
- Buatlah catatan-catatan dari jawaban narasumber, terutama untuk poin-poin penting. Bagi reporter jika wawancaranya tidal dalam bentuk door step, maka bisa membuat catatan dan jangan terlalu mengandalkan recorder.
- Ajukan pertanyaan secara ringkas, singkat, dan padat. Jangan bertanya menggunakan kalimat yang bertele-tele, muter-muter dan tidak jelas. Hal ini akan membuat narasumber meragukan kompetensi anda.
- Hindari pertanyaan tertutup dengan jawaban “yes-no” –pertanyaan yang hanya. Gunakan kalimat pertanya terbuka dengan kalimat awal pertanyaan bisa menggunakan “mengapa” (why). Jika anda sudah mahir berwawancara, maka kalimat pertanyaan seperti apapun akan menjadi kalimat pertanyaan terbuka dan dapat membuat narasumber menjelaskan dengan lebih panjang dan terbuka.
- Hindari pertanyaan ganda atau bertanya dua pertanyaan dalam satu waktu bertanya. Narasumber tetap akan menjawab satu dan menanyakan kepada anda apa tadi pertanyaan keduanya. Lebih baik bertanya satu-satu
- Jadilah pendengar yang baik. Artinya dengarkan jawaban narasumber dan jangan memotongnya jika jawabab belum clear atau jelas. Potonglah jawaban narasumber dengan pertanyaan, sehingga anda terkesan cerdas. Jangan memotong jawaban narasumber pada ssat yang tidak tepat apalagi terlalu sering, kesannya anda ingin unjuk gigi lebih hebat dari narasumber. Yang dibutuhkan oleh pendengar atau audien adalah jawaban narasumber bukan pertunjukan siapa diri anda.
- Boleh menyela apabila narasumber lari dari topik yang dibicarakan, namun selalah dengan sopan. Paling bagus anda menyelanya dengan pertanyaan yang mengarahkan kembali ke topik yang sedang dibicarakan, sehingga anda terkesan smart dan menguasai masalah.
- Anda dapat mengajukan pertanyaan baru yang muncul dari penjelasan narasumber. Hal ini sering terjadi dalam setiap wawancara.
- Setelah seluruh pertanyaan diajukan, jangan lupa memberikan kesempatan kepada narasumber untuk menjelaskan hal-hal yang mungkin belum ditanyakan.
- Usai wawancara, sampaikan ucapan terima kasih kepada narasumber dan sampaikan juga nomor kontak yang narasumber bisa hubungi.
- Hormati
permintaan narasumber untuk tidak mempublish poin jawaban-jawaban yang
disampaikannya (off the record) dan hormati juga bila nama, jabatan,
atau identitasnya tidak ingin disebut.
0 komentar:
Posting Komentar